Dalam dunia lari jarak jauh, istilah “berhenti berlari” mungkin terdengar seperti sebuah kegagalan atau bentuk menyerah di tengah lintasan. Namun, bagi para pelatih dan atlet mahasiswa di Lubuklinggau, strategi ini justru menjadi teknik rahasia yang mengantarkan mereka pada podium kemenangan di berbagai ajang marathon. Konsep yang mereka terapkan bukanlah berhenti total, melainkan integrasi antara lari dan jalan kaki cepat secara strategis yang dikenal dengan metode run-walk. Teknik ini terbukti mampu menjaga stamina atlet tetap stabil hingga kilometer-kilometer terakhir yang mematikan, di mana banyak pelari lain justru tumbang karena kelelahan ekstrem.
Mengapa strategi jalan kaki ini efektif dalam perlombaan marathon? Alasan utamanya adalah manajemen kelelahan otot dan pengaturan detak jantung. Saat seorang atlet berlari terus-menerus tanpa jeda, kelompok otot yang sama akan bekerja secara repetitif tanpa adanya kesempatan untuk melakukan pemulihan mikro. Dengan memasukkan sesi jalan kaki singkat setiap beberapa kilometer, beban kerja otot berpindah ke bagian yang berbeda, dan detak jantung dapat sedikit diturunkan dari zona anaerobik kembali ke zona aerobik. Hal ini mencegah terjadinya “the wall” atau kondisi di mana tubuh kehabisan cadangan glikogen dan otot berhenti berfungsi secara mendadak.
Di Lubuklinggau, para mahasiswa dilatih untuk membuang jauh-jauh ego bahwa jalan kaki adalah tanda kelemahan. Mereka diajarkan bahwa dalam marathon, kemenangan ditentukan oleh siapa yang paling sedikit melambat di akhir lomba, bukan siapa yang paling cepat di awal. Dengan melakukan jeda jalan kaki yang terencana, suhu inti tubuh atlet tetap terjaga agar tidak terlalu panas (overheating). Pengendalian suhu tubuh ini sangat krusial, terutama saat bertanding di iklim tropis Indonesia yang lembap. Atlet yang tetap dingin secara internal akan memiliki fungsi kognitif yang lebih baik untuk tetap menjalankan strategi lomba dengan presisi hingga garis finis.
Selain manfaat fisiologis, strategi ini juga memiliki dampak psikologis yang luar biasa besar. Menghadapi jarak 42 kilometer adalah beban mental yang sangat berat. Namun, bagi atlet Lubuklinggau, mereka tidak melihatnya sebagai satu jarak yang jauh, melainkan sebagai sekumpulan segmen lari pendek yang dipisahkan oleh waktu istirahat jalan kaki. Target-target kecil ini membuat beban mental menjadi lebih ringan dan meningkatkan kepercayaan diri. Setiap kali mereka selesai melakukan sesi jalan kaki, mereka merasa seolah-olah memiliki “kaki baru” yang siap untuk dipacu kembali. Motivasi yang terjaga inilah yang membuat performa mereka tetap konsisten di sepanjang jalur marathon.