Banyak pelari mengenal fenomena yang disebut runner’s high, perasaan euforia dan kebahagiaan yang melanda setelah sesi lari yang intens. Fenomena ini bukanlah mitos, melainkan respons biologis langsung dari tubuh berupa Pelepasan Hormon Endorfin. Hormon Endorfin, yang diproduksi secara alami oleh sistem saraf pusat, bertindak sebagai pereda nyeri dan peningkat mood yang ampuh, menjadikan lari pagi sebagai cara paling efektif dan terjangkau untuk memicu Pelepasan Hormon Endorfin. Intensitas lari yang tepat sangat menentukan seberapa signifikan Pelepasan Hormon Endorfin ini terjadi, memberikan manfaat terapeutik yang besar bagi kesehatan mental.
Secara ilmiah, Pelepasan Hormon Endorfin dipicu oleh stres fisik yang dialami tubuh selama aktivitas aerobik berintensitas sedang hingga tinggi. Endorfin bekerja dengan mengikat reseptor opioid di otak, yang menghasilkan efek analgesik (penghilang rasa sakit) dan perasaan sejahtera (well-being). Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Laboratorium Biokimia Olahraga Universitas Indonesia (UI) pada Agustus 2024 menemukan bahwa subjek yang berlari dengan detak jantung di atas 70% detak jantung maksimal mereka selama minimal 30 menit menunjukkan peningkatan kadar Endorfin dalam darah hingga 2 kali lipat dibandingkan saat mereka istirahat. Hal ini menjelaskan mengapa lari pagi sangat direkomendasikan sebagai penangkal stres, kecemasan, bahkan gejala depresi ringan.
Waktu pelaksanaan lari juga sangat memengaruhi manfaat psikologis yang didapat. Lari yang dilakukan di pagi hari, misalnya pada pukul 06.00 WIB, tidak hanya memberikan Endorfin tetapi juga memaparkan kulit pada sinar matahari pagi yang memicu produksi Vitamin D. Vitamin D telah terbukti memiliki korelasi positif dengan peningkatan mood dan energi. Dengan demikian, lari pagi menciptakan sinergi sempurna antara manfaat fisik dan mental.
Untuk memastikan sesi lari berjalan lancar dan aman, terutama di area publik, koordinasi keamanan sangat diperlukan. Komunitas Lari Sehat Jakarta Timur yang rutin menggunakan rute jalan protokol setiap Minggu pagi selalu berkoordinasi dengan pihak berwenang. Pada 12 Januari 2025, mereka dibantu oleh Aparat Kepolisian Sektor (Polsek) Bidang Lalu Lintas, Brigadir Dedi Kurniawan, yang bertugas mengatur lalu lintas dan memastikan jalur pelari steril dari kendaraan. Protokol ini penting untuk menjamin bahwa fokus pelari tetap pada ritme dan pernapasan mereka, memaksimalkan Pelepasan Hormon Endorfin tanpa terganggu oleh risiko keselamatan.