Dalam olahraga ketahanan seperti renang, bahan bakar utama yang digunakan tubuh untuk menghasilkan kontraksi otot yang kuat adalah glikogen yang tersimpan di otot dan hati. Namun, sering kali atlet mahasiswa mengalami kondisi di mana mereka merasa energi habis total di tengah sesi latihan atau saat memasuki babak final perlombaan. Fenomena ini dalam dunia olahraga dikenal dengan istilah “bonking” atau “hitting the wall”. Bapomi Linggau memberikan perhatian khusus pada strategi nutrisi bagi para perenang agar mereka mampu menjaga intensitas latihan tanpa mengalami kelelahan metabolik yang ekstrem.
Kelelahan total terjadi ketika cadangan karbohidrat dalam tubuh mencapai titik terendah, memaksa tubuh untuk beralih menggunakan lemak sebagai sumber energi utama. Masalahnya, proses oksidasi lemak berlangsung jauh lebih lambat dan tidak mampu mendukung aktivitas intensitas tinggi seperti sprint di kolam renang. Akibatnya, kecepatan perenang akan menurun drastis, koordinasi gerak menjadi berantakan, dan fokus mental mulai menghilang. Cara Bapomi Linggau mengatasi hal ini adalah dengan mengedukasi atlet mengenai pentingnya manajemen asupan karbohidrat yang terencana dan presisi.
Mekanisme Pengisian Cadangan Bahan Bakar Otot
Glikogen adalah bentuk simpanan glukosa yang sangat efisien untuk ledakan tenaga. Bagi atlet di Linggau, proses pengisian kembali atau re-fueling harus dimulai bahkan sebelum rasa lelah itu muncul. Isi glikogen secara optimal dilakukan melalui dua fase krusial: pre-loading sebelum latihan dan recovery nutrition segera setelah latihan berakhir. Bapomi menekankan bahwa jendela waktu 30 hingga 60 menit setelah keluar dari kolam adalah periode emas di mana otot sangat sensitif terhadap penyerapan glukosa untuk membangun kembali cadangan energi yang hilang.
Kesalahan umum mahasiswa adalah sering melewatkan sarapan sebelum latihan pagi atau hanya mengandalkan makanan instan yang rendah nutrisi. Padahal, tanpa simpanan glukosa yang cukup, tubuh akan mulai memecah protein otot untuk dijadikan energi, yang justru merugikan perkembangan fisik atlet itu sendiri. Oleh karena itu, pemilihan jenis karbohidrat—baik yang kompleks untuk ketahanan lama maupun yang sederhana untuk energi cepat—menjadi kunci utama yang terus disosialisasikan oleh Bapomi Linggau kepada seluruh tim renang di wilayah tersebut.