Lubuklinggau bersiap menghadirkan kompetisi olahraga yang menguji ketahanan fisik sekaligus kepekaan nurani melalui ajang BAPOMI 2026. Di wilayah yang dianugerahi keindahan pegunungan yang menantang, BAPOMI memperkenalkan sebuah disiplin kompetisi baru yang mewajibkan para atlet mahasiswa untuk melakukan aksi nyata bagi lingkungan. Fokus kegiatannya adalah perlombaan mendaki gunung yang terintegrasi dengan misi kebersihan, di mana kecepatan mencapai puncak bukan satu-satunya kriteria kemenangan, melainkan jumlah beban limbah anorganik yang berhasil dikumpulkan oleh peserta selama perjalanan mereka di sepanjang jalur pendakian.

Inisiatif ini lahir dari keprihatinan atas semakin banyaknya sampah plastik yang ditinggalkan oleh para pendaki di jalur-jalur pendakian populer. Lubuklinggau ingin memberikan standar baru bahwa seorang pencinta alam dan olahragawan sejati adalah mereka yang tidak meninggalkan apa pun kecuali jejak kaki. Dalam ajang BAPOMI 2026, para atlet dibekali dengan kantong sampah khusus yang dirancang agar tidak mengganggu pergerakan mereka saat melakukan pendakian cepat. Setiap kilogram sampah yang dibawa turun akan diakumulasikan ke dalam poin penilaian akhir, sehingga atlet ditantang untuk memiliki strategi dalam membagi tenaga antara berlari dan mengumpulkan sampah.

Kompetisi di Lubuklinggau ini menuntut kekuatan fisik yang sangat prima. Medan yang curam dan udara yang menipis menjadi ujian berat bagi stamina para perwakilan mahasiswa dari berbagai universitas. Namun, dengan adanya misi membersihkan jalur, fokus mental para atlet menjadi lebih terarah pada lingkungan sekitarnya, bukan hanya pada rasa lelah pribadi. Hal ini menciptakan rasa persaudaraan yang lebih erat antarpeserta, di mana mereka seringkali saling membantu untuk mengangkut sampah yang terkumpul banyak. BAPOMI ingin mencetak generasi atlet yang memiliki disiplin fisik setajam atlet profesional, namun memiliki kelembutan hati layaknya aktivis lingkungan.

Edukasi mengenai ekosistem pegunungan diberikan kepada para peserta sebelum mereka mulai mendaki gunung. Mereka diajarkan mengenai jenis-jenis tanaman endemik dan bagaimana keberadaan sampah dapat merusak siklus air di pegunungan yang menjadi sumber kehidupan masyarakat di bawahnya. Lubuklinggau ingin menjadikan gunung sebagai ruang kelas bagi para intelektual muda ini. Dengan melihat langsung dampak negatif sampah di alam liar, diharapkan para atlet mahasiswa ini akan menjadi pelopor gaya hidup minim sampah di lingkungan kampus mereka masing-masing setelah ajang 2026 ini berakhir.

Kategori: Berita